Rabu, 01 Januari 2014

kenapa harus "berapa" ?

          Waktu itu, menatapku tajam, aku melihat ada banyak pertanyaan dari matanya tentang hal itu, benar saja, “Suci, berapa?” sontak pertanyaan itu membuatku bak disambar petir ditengah damainya angin malam, Setelah perbincangan yang cukup melelahkan kenapa pertanyaan itu yang harus keluar darinya? Heranku dalam diam. aku tak tau dia akan menanyakan hal itu, sungguh. Pertanyaan itu mengantarkanku pada ingatan rasa bersalah waktu dulu, yang tadinya telah ku simpan rapi dalam almari, kini terpaksa ku buka kembali untuk melihat pesan-pesan yang beberapanya telah melapuk  dari ingatanku.
Yah, inilah dunia baruku, tak bisa seenaknya bebas melenggang tanpa melihat kiri kanan, trus bilang, “hidup-hidup gue, kok lo yang repot?” atau  “terserah gue dong, masalah buat lo? Atau “please dong, ngak usah ikut campur deh!”. disini, didunia baru ini ada banyak pasang mata yang setia memperhatikan setiap langkahku.

            “hei, suci ?”
Mengagetkan ku. dan akhirnya sebuah nominal meluncur dari mulutku, berikutnya beberapa pertanyaan menyergapku kembali dan kali ini kubalas dengan kebisuan.

***

            Sahabatku,  beruntungnya aku mempunyaimu. Terimakasihku untukmu yang selalu memberi pola baru. Ingin sekali rasanya aku membuka mulut ini, mengeluarkan segala hal aneh dalam otak ini tapi aku tak mampu sahabatku, ada Bab- bab  tertentu yang belum bisa kubagikan ke siapapun tanpa terkecuali. Terlebih lagi hal ini, karna masa lalu mu, ada dalam bagian bab itu. Itu alasan utamaku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar