Waktu
itu, menatapku tajam, aku melihat ada banyak pertanyaan dari matanya tentang
hal itu, benar saja, “Suci, berapa?” sontak pertanyaan itu membuatku bak
disambar petir ditengah damainya angin malam, Setelah perbincangan yang cukup
melelahkan kenapa pertanyaan itu yang harus keluar darinya? Heranku dalam diam.
aku tak tau dia akan menanyakan hal itu, sungguh. Pertanyaan itu mengantarkanku
pada ingatan rasa bersalah waktu dulu, yang tadinya telah ku simpan rapi dalam
almari, kini terpaksa ku buka kembali untuk melihat pesan-pesan yang
beberapanya telah melapuk dari
ingatanku.
Yah,
inilah dunia baruku, tak bisa seenaknya bebas melenggang tanpa melihat kiri
kanan, trus bilang, “hidup-hidup gue, kok lo yang repot?” atau “terserah gue dong, masalah buat lo? Atau
“please dong, ngak usah ikut campur deh!”. disini, didunia baru ini ada banyak
pasang mata yang setia memperhatikan setiap langkahku.
“hei, suci ?”
Mengagetkan ku. dan akhirnya sebuah
nominal meluncur dari mulutku, berikutnya beberapa pertanyaan menyergapku
kembali dan kali ini kubalas dengan kebisuan.
***
Sahabatku, beruntungnya aku mempunyaimu. Terimakasihku
untukmu yang selalu memberi pola baru. Ingin sekali rasanya aku membuka mulut
ini, mengeluarkan segala hal aneh dalam otak ini tapi aku tak mampu sahabatku,
ada Bab- bab tertentu yang belum bisa
kubagikan ke siapapun tanpa terkecuali. Terlebih lagi hal ini, karna masa lalu
mu, ada dalam bagian bab itu. Itu alasan utamaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar