Rabu, 01 Januari 2014

Cerita Tentang Kita

Aku masih bisa membentenginya dengan senyuman, naasnya
Ketika tiba giliranku,
Diam, tertunduk,mencoba menahan, menahan, menahan tapi apa daya jeritan hati yang telah perih beberapa bulan ini kini telah merubuhkan bentengku yang disambut dengan deraian air mata yang mengalir deras di senja hari. Perasaan yang tlah lama tertahan itu kini terwujud dalam bentuk air mata. “Sial!” lirihku dalam diam. Tapi kemenangan kembali menghampiriku setelah ku tau bahwa Air mata itu kini tak mampu mengeluarkan kata-kata yang tlah tersusun rapi di almari hati ini, bukan karna apapun tapi karna aku tak mau menggores hati yang lembut itu.
Biarkan kini ku berpetualang lagi dengan goresan-goresan yang ada. Cukup sudah ia merasakan hal tak enak itu karna kebodohanku.

dan Pada akhirnya yang ku lihat, setiap mereka dingin, entah kenapa keadaan tak sehangat dulu, walau mulut mereka mengatakan tidak ada apa-apa tapi mata mereka mengatakan sebaliknya, apakah mereka tidak mengingat bagaimana mereka dahulunya?

berjanjilah untuk membuat keadaan lebih baik lagi walaupun dengan jalan masing-masing, berjanjilah untuk tetap berbicara walaupun dengan keadaan berbeda dan dengan suasana yang sangat kontras seperti dahulu. Menyedihkan memang mengetik kata “masing-masing” itu tapi perjuangan ini harus bersifat komprehensif. Percayalah pada janji Tuhan, Percayalah ada skenario luar biasa yang telah disiapkan-Nya untuk semua ini.

Tuhan, jika memang mereka tidak dapat menciptakan suasana indah itu lagi, mohon jangan buat mereka seakan tak saling kenal, izinkan mereka untuk saling sapa segera tanpa ada organ tubuh yang bersandiwara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar